Rabu, 28 Februari 2018

MEMBACA SAMPAI KEDALAMAN

“Lantas apakah kau rela mati jika tak diizinkan membaca? Bagaimana dengan usiamu yang semakin mempersempit jarak dengan kematian? Apa kau masih mau malas membaca?”


Perjumpaan dengan Buku-buku.

Detak detik jam yang berbunyi tak lagi kuhiraukan. Aku semakin larut tenggelam pada sihir kata. Buku. Paragraf demi paragraf luntur sudah di mataku, dan tentu cerita-cerita fiksi telah menghidupi malam-malamku. Belum terlalu lama aku mencintai buku, seperti aku mencintai seorang perempuan. Di awal usia duapuluhan, mungkin. Aku hanya seorang pemuda desa yang berlagak hidup di kota, berpura-pura gaul, berpura-pura pintar, namun satu buku pun belum pernah ada yang kuselesaikan semenjak bangku TK. Tak terkecuali buku pelajaran dan LKS. Beberapa tahun mengembara di Yogyakarta, aku mulai mengenal buku. Belajar membaca secara istiqomah. Baik buku fiksi maupun non-fiksi. Baik buku yang tertulis, atau “buku” yang masih berupa perwujudan nyata di lingkungan sekitar.

Senin, 12 Februari 2018

MATERI JENIS-JENIS MAKNA KATA

Berikut ini materi tentang jenis-jenis makna kata.
Unduh di sini versi ms word.
Terimakasih.



Sumber dari https://dosenbahasa.com/jenis-jenis-makna-kata

Rabu, 16 Agustus 2017

KUPUTUSKAN UNTUK MENYURATI WONOSOBO



“Jika aku rindu, maka kuputuskan untuk menyurati Wonosobo”

            “Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?” Aku tak akan pernah berkhianat jika megana dan tempe kemul adalah salah satu kenikmatan Tuhan yang berada di Wonosobo.
            Aku suka menghabiskan sore dengan menikmati semilir angin yang risik, angin yang mengingatkan masa kecil sekaligus masa lalu di Wonosobo. Kota yang selalu memberikan rasa rindu jika gerimis mulai berguguran dari langit, dan jika hujan telah jatuh maka rindu tak lagi menjadi sebuah kata. Sementara aku hanya seorang sarjana pendidikan yang baru lulus sekitar satu tahun lalu. Seorang pemuda yang hanya menghabiskan waktu untuk menulis puisi atau sekadar membaca buku-buku puisinya Sapardi Djoko Damono.

Kamis, 09 Maret 2017

SEBUAH CATATAN PERJALANAN YANG DIPENUHI SUARA DARI SEPI

Kongres Gunung, Kutabawa
Purbalingga, 14 Desember 2016


Jalan dan Lagu yang Bertolak

Begitu deru mesin pecahkan sunyi malam, waktu tiba-tiba melesat cepat. Jalan lurus atau kelokan mendadak mesra dengan dingin selama perjalanan. Gerimis selalu mempercepat atau melambatkan keinginan untuk sampai pada tujuan. Sebelum itu, kendaraan tiba-tiba melambatkan lajunya. Benar saja, jalanan penuh lubang dan digenangi air. Tak terasa hampir satu jam menghabiskan waktu untuk menikmati lubang dan kubangan air, tentu saja tak sedalam kenangan masa lalu. Hanya saja lebih menyakitkan jika harus terlambat karena sebuah lubang yang terus menganak pinak.
Roda menapak pada batas kota selanjutnya. Kali ini tak ada lagi gerimis, hanya sebuah kota di lereng gunung Slamet yang menciptakan malam dan sepinya sendiri. Tak ada di antara kami yang mengetahui pasti tempat akan berlangsungnya acara. Tak ada siapapun bagi kami untuk bertanya sebuah alamat. Selain GPS memang tidak ada hal yang pasti, seperti mengharap cinta dari seseorang yang sudah memiliki belahan hatinya sendiri.

Rabu, 25 Mei 2016

TUHAN DIAM BELAKA (AHMAD TOHARI)



Tuhan Diam Belaka

Oleh Ahmad Tohari

            Seorang pemuda dalam perjalanan menuju suatu tempat. Belum sampai ke tujuan, waktu magrib telah masuk. Maka dia menghentikan sepeda motornya dekat sebuah surau di tepi jalan. Kebetulan di sana siap ditegakkan jamaah magrib oleh beberapa orang lelaki, anak-anak dan perempuan. Seorang lelaki tua bertindak sebagai imam.
            Si pemuda cepat mengambil air sembahyang dan segera bergabung dengan para jamaah dan mengikuti salat magrib sejak rakaat pertama. Namun kelihatan benar pemuda tersebut tidak khusuk dalam salatnya. Ia kelihatan gelisah sepanjang salatnya.
            Dan salat jamaah pun usai. Namun si pemuda berdiri kembali dan bertakbir-ikhram. Orang-orang di surau itu mengira pemuda tadi hendak menegakkan salat ba’da magrib. Namun para jamaah jadi ragu karena si pemuda salat dengan tiga rakaat. Setahu mereka salat sunnah ba’da magrib hanya dua rakaat.
            “Salat sunnah Anda kelebihan satu rakaat,” kata seorang jamaah sambil tersenyum.
            “Oh, aku tidak salat sunnah. Yang baru saja aku lakukan adalah salat magrib,” jawab si pemuda dengan yakin.

Kamis, 03 Desember 2015

JALAN ALTERNATIF MENUJU JALAN SASTRA



Jalan Alternatif Menuju Jalan Sastra

Bangku perkuliahan merupakan hal yang dilematis jika dilihat dari beberapa kacamata. Tidak lain tujuan setelah lulus adalah mendapatkan ijazah dan pekerjaan. Apakah itu saja cukup? Setiap orang akan memiliki ceritanya masing-masing. Di Yogyakarta banyak berdiri universitas, entah itu negeri maupun swasta. Tetapi tidak semua universitas memiliki jurusan sastra atau pendidikan bahasa dan sastra.
Jika menengok pada jurusan pendidikan bahasa dan sastra, bahwa output yang ingin dihasilkan adalah munculnya calon pendidik (guru), ahli bahasa, dan ahli sastra (sastrawan/kritikus sastra) yang tidak ‘abal-abal’. Sementara pada jurusan sastra sendiri sudah barang pasti harus memunculkan dosen sastra, sastrawan atau kritikus sastra. Artinya lulusan diharapkan memiliki ilmu pokok dari jurusan yang sudah ditempuh, yaitu pendidikan, bahasa, dan sastra. Ketiga hal ini tidak akan pernah dipisahkan di dalam jurusan sastra atau pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, karena merupakan mata rantai yang akan saling berkait.

Senin, 24 Agustus 2015

CONTOH LAPORAN PPL UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA TAHUN 2014



LAPORAN KEGIATAN
PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)
DI SMP MUHAMMADIYAH 1 YOGYAKARTA


Disusun oleh:
1.      Alivia Novic                     11A06045
2.      Ardy Suryantoko              11003146
3.      Devi Bima Arditama         11A06033
4.      Dhewi Handayani             11004245
5.      Dwi Astuti                        11004258
6.      Ida Vinny Sudaningsih     11004273
7.      Indah Primaniarta Aji       11003001
8.      Iwan Bachtiar                   11004256
9.      Lita Septiani                      11003144
10.  Marisna Musyafrudin        11009037
11.  Miko Nugroho                  11009041
12.  Murti Sri Rahayu              11A08037
13.  Nidya Nurhaida                11004285
14.  Putri Nurmalita Sari          11003064
15.  Rachma Dewi Anjarsari    11A06028
16.  Septiyaningsih                   11004255
17.  Setiawan Gusmadi            11009038
18.  Tanjung Rinjani                 11A06036
19.  Tedi Hendrawan               11009017
20.  Tyas Erafitrie                    11A06041
21.  Vivi Ardyianti Ledy         11A06044
22.  Wahyu Oktamarsetyani    11A06028
23.  Wahyu Sukmajati              11A06032

FRAGMEN "SEJARAH" KOTA DINGIN (MEMUSOKAN LADANG YANG SUBUR)



ardysuryantoko@yahoo.com

Dingin tercecer di mana-mana, sebuah isyarat bahwa ini merupakan daerah lereng gunung. Kabut juga tidak begitu pekat, tetapi rajin datang setelah petang menyengat. Lampu-lampu jalanan yang khas, dan lubang-lubang jalan yang tidak pernah absen dari pergantian musim. Musim panas dan musim hujan. Musim rindu dan musim cemburu. Sementara para kembara sudah berulang kali melewati jalan yang sama. Hanya untuk bertemu atau sekedar menghabiskan waktu untuk bercakap tentang hal yang itu-itu saja.
Perjalanan memang tak pernah diketahui kapan awal dan kapan akhir, namun demikian pencarian harus selalu dilakukan. Salah satu yang dicari dalam perjalanan pulang kali ini adalah mencari kenangan yang terlupakan. Bukan, dilupakan lebih tepatnya. Beberapa hari menyusuri sudut kota sudah banyak perubahan, namun secara hakikat nama kotanya masih sama. Dan bagaimana dengan masyarakatnya, tak terlihat jauh berubah.

Senin, 29 Juni 2015

PUISI-PUISI YANG DIMUAT DI SUARA MERDEKA MINGGU 28 JUNI 2015



Anak-anak Angin
: bocah gimbal

isyarat jatuh dari pucuk pinus
bersama buah-buah kering
dingin digiring menuju perburuan

tanah-tanah tercacah
sementara jiwa semayam
dipendam pupuk kandang

seperti lebat kentang
berjejer di barisan bukit hyang
angin asyik berlari
habiskan waktu
terbangkan bau seledri
bumbui senja sepi

bocah-bocah tak henti
bermain kitiran bambu
berlari susuri tanah terjal
memintal jarak

tawa jatuh di ceruk bukit
bocah larung
dibawa anak-anak angin

jejak imaji, juni 2015

Kamis, 21 Mei 2015

Perempuan yang "Disukai" Lelaki



Perempuan yang “Disukai” Lelaki


            Ada harum yang semerbak, saat kaki-kaki mungil merambah bahu trotoar sepanjang mata membentang. Perempuan yang begitu saja lewat tanpa permisi, dengan busana yang aduhai. Harumnya menusuk sampai pangkal hidung. Dari yang tertutup sampai yang diumbar auratnya. Lelaki mana yang tidak ingin menggoda dan “memilikinya”. Sudah menjadi hal biasa ketika perempuan dengan pakaian yang serba mini, dan bukan menjadi persoalan lagi. Sebaliknya, akan menjadi persoalan ketika perempuan dengan aurat tertutup tetapi menggoda. Ah, inilah istilah keren saat ini, “Jilboobers”.
Menjamurnya sosial media dan gadget di golongan perempuan bisa menjadi bumerang tersendiri. Bagaimana peran sosial media dan gadget sangat berpengaruh besar terhadap tren hijabers. Merebaknya fenomena ini merupakan salah satu dampak dari kemajuan teknologi dan ketidakpuasan manusia terhadap apa yang dimilikinya.

Senin, 13 April 2015

Dua Puisi yang Dimuat di Koran Indopos (Minggu, 12 April 2015)



Mata Air Bima Lukar

maka angin mendengarkanmu
dan menumpahruahkan tirta
lalu tangan-tangan kecil menadahi setiap tetes
di lembah-lembah negeri hyang
di hulu rahim mata air
yang mengelinding seperti anak-anak
gunung asik bermain menanti kabar hujan

maka angin mendengarkanmu
dua sendang mengalir
menggulir suara sumbang resi bima
yang deras mengucur
membasuh bebatuan hulu
memikat drupadi ayu

Sabtu, 28 Februari 2015

RESENSI BUKU "MATAPANGARA" KARYA RAEDU BASHA

Mengembara Identitas Lokal Sampai Global



Judul Buku      : Matapangara
Pengarang       : Raedu Basha
Penerbit           : Ganding Pustaka
Tahun Terbit    : 2015
Cetakan           : Ketiga
Dimensi Buku : 13 x 19 cm+68 halaman
Harga Buku     : Rp29.000,00
ISBN               : 978-602-1638-30-9

Ada wangi Madura yang begitu khas berbaur wangian negeri asing. Seperti mencari wangi garam sambil mendengarkan aransemen musik Kitaro, kemudian melayang-layang menjelajah sahara, melintasi gunung sambi memerangi kesepian di Eropa hingga ke urban barat penuh warna dunia yang membedah mata. Pelbagai persoalan kehidupan dikemas dengan rapi, seperti diajak bermain menelusuri lintas negeri dengan masing-masing wangi yang khas. Menurunkan tempo detak jantung sebelum melepas nafas panjang.
Sajak “Ternyata Sudah Sangat Malam” menjadi pembuka yang penuh kegelisahan. Kesepian menggaruki jiwa setelah lepas dari tanah kelahiran menuju kota rantau. Seperti kesepian, kegelisahan, dam ketakutan yang dialami oleh Maximalianus di goa Tarthus. Seseorang yang pernah atau sedang pergi meninggalkan tanah kelahirannya pasti bisa memahami dan merasakan kegelisahan dalam perantauan. “Pergi dari sesuatu yang dikasihi, memberi kesempatan kepada seseorang untuk meninjau, menimbang dan merenungkannya. Pergi dari tanah kelahiran buat sementara, memberi kesempatan pada seseorang untuk kembali merenungkan hubungannya dengan tanah kelahiran itu.”[1]

Kamis, 19 Februari 2015

PUISI DIMUAT SUARA MERDEKA (MINGGU, 15 FEBRUARI 2015)

Beberapa puisi yang dimuat di koran Suara Merdeka, pada Minggu, 15 Februari 2015.


Fragmen I

undak petak sawah, tempat angin berlari
menyibak matahari yang mencangkuli
punggung emak bapak
undak petak sawah, tempat harap disemai
menanti rumpun-rumpun sri
mengharap rahim tanah memberi tuai

Jumat, 23 Januari 2015

ESAI "SASTRA DAN REALITA MASYARAKAT"



Sastra dan Realita Masyarakat

Sastra adalah intuisi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra ”menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia (Wellek dan Austin, 2014: 98). Jadi pada dasarnya sastra  merupakan cermin kehidupan masyarakat. Terciptanya sebuah karya sastra tidak pernah lepas dari faktor sosial pengarang dan lingkungan kehidupannya. Karya sastra sendiri bersifat subjektif pengarang

Kamis, 16 Oktober 2014

KONSEP PENDIDIKAN DARI SUDUT PANDANG ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
  Sejarah umat Islam juga telah mencatat berkembangnya dunia pendidikan yang mengembangkan proses intelektualitas dan kreativitas dalam ilmu pengetahuan. Pada masa dinasti Umayah umat Islam mengalami kemajuan yang luar biasa, adanya Perpustakaan, berkembangnya Ilmu pengetahuan dibidang kedokteran, filsafat, matematika, aljabar menjadi fakta bahwa saat itu Islam amat mendukung akan kemajuan dibidang pendidikan. Artinya ajaran Islam mendorong kepada umatnya untuk pintar.

Selasa, 23 September 2014

CONTOH RPP TEKS ANEKDOT (SMA)



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan      : SMA 2 Wonosobo
Kelas/ Semester           : X/1(Ganjil)
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Topik                           : Teks Anekdot
Pertemuan Ke-            :
Alokasi  Waktu           : 2 x 45

A.    Kompetensi Inti
KI 1          Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2          Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Kamis, 18 September 2014

PENGANTAR PENDIDIKAN ISLAM



Pengantar Pendidikan Islam

A.  Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/ latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (UU No. 2 Th. 1989 Tentang SISDIKNAS)
Pendidikan menurut beberapa pendapat ulama Islam:
1.      Ibn Maskawih (421 H.): Pembinaan yang dilakukan secara serius melalui proposionalitas dengan memperhatikan kapasitas murid sehingga memperoleh hasil yang dilakukan sejak dini. (Minhaju al-Quran fi Tarbiyyati ar-Rijal (ttp: Maktabah Syirkah, vet. I, 1981), hlm. 5.
2.      An-Nahlawi dalam Usulu at-Tarbiyah…: Pendidikan adalah kegiatan yang betul-betul memiliki sasaran, tujuan dan target sesuai dengan syariat agama yang dilakukan dengan metodologi proposional serta memperhatikan tahapan-tahapan dari perkembangan anak. Ibid…. an-Nahlawi Usulu at-Tarbiyyah, hlm. 32.

PENGERTIAN, PELAKSANAAN, DAN MANFAAT TEKNIK AKROSTIK



A.    Pengertian Teknik Akrostik
Sudah jelas bahwa tidak akan ada pembelajaran tanpa ingatan, oleh sebab itu kita perlu mengetahui sedikit cara ingatan bekerja dan meningkatkannya. Terutama karena sekitar 70% materi yang telah pelajari hari ini bisa terlupakan dalam 24 jam, jika kita tidak melakukan upaya khusus untuk mengingatnya.Untuk mengingat materi yang sudah dipelajari, kita perlu merekamnya dengan kuat supaya meninggalkan kesan, ini perlu tindakan. Oleh karena itu disini akan dijelaskan terlebih dahulu apa definisi dari teknik akrostik.
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Teknik sifatnya lebih praktis yang disusun untuk menjalankan suatu metode dan strategi tertentu. Dengan kata lain, teknik pada dasarnya menunjukkan cara yang dilakukan seseorang yang sifatnya lebih bertumpu pada kemampuan dan pribadi seseorang. Kata akrostik berasal dari kata Perancis acrostiche dan Yunani akrostichis yang artinya sebuah sajak yang huruf awal baris-barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata.
Adapun pengertian akrostik menurut beberapa pendapat ialah:
·         Menurut Sutisno akrostik merupakan penggunaan setiap huruf pertama dari suatu kelompok kata dan suku kata-suku kata lainnya sehingga menjadi suatu kalimat.
·         Menurut Bill Lucas akrostik adalah sajak atau susuanan kata-kata yang seluruh huruf awal atau akhir tiap barisnya merupakan sebuah kata atau nama diri yang digunakan untuk mengingat hal lain.
·         Menurut Mario Seto akrostik adalah kata yang menggunakan huruf pertama untuk membuat satu frase guna membantu mengingat daftar.
·         Menurut Deasy akrostik adalah mengingat dengan mengambil huruf depan dari masing-masing kata yang akan diingat.
·         Menurut Markowitz akrostik adalah susunan kata yang tidak selalu menggunkan huruf pertama dan tidak selalu menghasilkan singkatan dalam bentuk satu kata, informasi yang diingat dalam akrostik dapat berbentuk kalimat atau frase tertentu.

Rabu, 17 September 2014

CONTOH RPP TEKS EKSPOSISI (SMP)



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan
:
SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta
Kelas/ Semester
:
VII/ Gasal
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia
Topik/ Tema
:
Teks Eksposisi
Pertemuan Ke-
:
1-3
Alokasi Waktu
:
6 x 40 menit (3 kali pertemuan)








A.        Kompetensi Inti
KI 1
:
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2
:
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3
:
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4
:
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

CONTOH RPP TEKS NEGOSIASI (SMA)

SILAHKAN LINK BISA DIUNDUH DI SINI.