Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2015

PUISI-PUISI YANG DIMUAT DI SUARA MERDEKA MINGGU 28 JUNI 2015



Anak-anak Angin
: bocah gimbal

isyarat jatuh dari pucuk pinus
bersama buah-buah kering
dingin digiring menuju perburuan

tanah-tanah tercacah
sementara jiwa semayam
dipendam pupuk kandang

seperti lebat kentang
berjejer di barisan bukit hyang
angin asyik berlari
habiskan waktu
terbangkan bau seledri
bumbui senja sepi

bocah-bocah tak henti
bermain kitiran bambu
berlari susuri tanah terjal
memintal jarak

tawa jatuh di ceruk bukit
bocah larung
dibawa anak-anak angin

jejak imaji, juni 2015

Senin, 13 April 2015

Dua Puisi yang Dimuat di Koran Indopos (Minggu, 12 April 2015)



Mata Air Bima Lukar

maka angin mendengarkanmu
dan menumpahruahkan tirta
lalu tangan-tangan kecil menadahi setiap tetes
di lembah-lembah negeri hyang
di hulu rahim mata air
yang mengelinding seperti anak-anak
gunung asik bermain menanti kabar hujan

maka angin mendengarkanmu
dua sendang mengalir
menggulir suara sumbang resi bima
yang deras mengucur
membasuh bebatuan hulu
memikat drupadi ayu

Kamis, 19 Februari 2015

PUISI DIMUAT SUARA MERDEKA (MINGGU, 15 FEBRUARI 2015)

Beberapa puisi yang dimuat di koran Suara Merdeka, pada Minggu, 15 Februari 2015.


Fragmen I

undak petak sawah, tempat angin berlari
menyibak matahari yang mencangkuli
punggung emak bapak
undak petak sawah, tempat harap disemai
menanti rumpun-rumpun sri
mengharap rahim tanah memberi tuai

Selasa, 19 Agustus 2014

MENDAYU


Mendayu

tak satupun bersua
guratan tanda pada cakrawala
menyudut dalam diam, sebab kata mengabur
menjelaga pada dinding senja

wahai
rindu yang mengusik senyapku
yang enggan beranjak
dari ketidaksadaran, dan ketidakwarasan

kini, apa yang mesti kunyanyikan
sedang petang membisu, dan kau
melebur dalam denyut nadiku
rindu enyahlah, pilu melagu

Yogyakarta, 4 Juli 2014
Jejak Imaji

Sajak Ardy Suryantoko

Sabtu, 16 Agustus 2014

PADA DERMAGA



Sajak Ardy Suryantoko

Pada Dermaga
ada yang hilang
saat hujan menampar jasad kosong
melarungkan pada sungaisungai kecil
yang muara hingga samudra jiwa
menggenang bayang, hampa
keruh airnya

tak cukup sampan dayung
mengarungi luasnya yang
tanpa batas, penuh riak dan ombak
serta badai yang mencakar
langit dengan kilat halilintar

ini sampan tanpa layar
yang mengarungi samudranya
mencari dermaga untuk berlabuh
dengan bekal jiwa yang menipis
termakan deras waktu

buihbuih seperti batu terapung
menyandung setiap laju
terjal lembah antara ombakombak
deru badai mengguncang
amuknya melalap, mengunyah
mentahmentah setiap jengkal ruhnya

bertubi badai berganti
semakin dekat dermaga
yang selama ini dituju
berlabuh kembali

Yogyakarta, 22 Juni 2014
Jejak Imaji

KUPUKUPU



Sajak Ardy Suryantoko

Kupukupu
: E

gerimis agustus
kau kepakkan sayap, meninggalkan
senja yang ranum
putik-putik kau buat layu sendu

di sebuah kebun
sekar tak lagi mekar
nektar tak memabukkan
dan membasahi dahaga nafsumu

Yogyakarta, 2 Juli 2014
Jejak Imaji

Rabu, 13 Agustus 2014

Sajak Ardy Suryantoko: AULIA



tak ada yang tahu pada setiap waktu lalu
jamuan tuhan tentang semesta alam yang binal
bayu mengoyak sukma penuh nafsu fana manusia
angkara tertahan pada jiwa-jiwa pilihannya

di batas cakrawala ombak berpacu menuju pesisir
sedang senja semburat dari laut bisu
tak sua wajahmu kasih di antara
igauan pasir-pasir yang berdesir

dalam diam, kata nurani menggurat
pada karang-karang yang melapuk
dan ketaksadaran larungkan kesendirian
sejak hari kemarin

aulia, kekasih asih
rembulan sudah menjelma separuh parasmu, lalu
mengharu biru saat gelap menjerat
menengkari habisnya waktu yang merindu
hadirmu di beranda malam

wonosobo, 23 juli 2014
Jejak imaji

CONTOH RPP TEKS NEGOSIASI (SMA)

SILAHKAN LINK BISA DIUNDUH DI SINI.