Senin, 24 Agustus 2015

FRAGMEN "SEJARAH" KOTA DINGIN (MEMUSOKAN LADANG YANG SUBUR)



ardysuryantoko@yahoo.com

Dingin tercecer di mana-mana, sebuah isyarat bahwa ini merupakan daerah lereng gunung. Kabut juga tidak begitu pekat, tetapi rajin datang setelah petang menyengat. Lampu-lampu jalanan yang khas, dan lubang-lubang jalan yang tidak pernah absen dari pergantian musim. Musim panas dan musim hujan. Musim rindu dan musim cemburu. Sementara para kembara sudah berulang kali melewati jalan yang sama. Hanya untuk bertemu atau sekedar menghabiskan waktu untuk bercakap tentang hal yang itu-itu saja.
Perjalanan memang tak pernah diketahui kapan awal dan kapan akhir, namun demikian pencarian harus selalu dilakukan. Salah satu yang dicari dalam perjalanan pulang kali ini adalah mencari kenangan yang terlupakan. Bukan, dilupakan lebih tepatnya. Beberapa hari menyusuri sudut kota sudah banyak perubahan, namun secara hakikat nama kotanya masih sama. Dan bagaimana dengan masyarakatnya, tak terlihat jauh berubah.

Senin, 29 Juni 2015

PUISI-PUISI YANG DIMUAT DI SUARA MERDEKA MINGGU 28 JUNI 2015



Anak-anak Angin
: bocah gimbal

isyarat jatuh dari pucuk pinus
bersama buah-buah kering
dingin digiring menuju perburuan

tanah-tanah tercacah
sementara jiwa semayam
dipendam pupuk kandang

seperti lebat kentang
berjejer di barisan bukit hyang
angin asyik berlari
habiskan waktu
terbangkan bau seledri
bumbui senja sepi

bocah-bocah tak henti
bermain kitiran bambu
berlari susuri tanah terjal
memintal jarak

tawa jatuh di ceruk bukit
bocah larung
dibawa anak-anak angin

jejak imaji, juni 2015

Kamis, 21 Mei 2015

Perempuan yang "Disukai" Lelaki



Perempuan yang “Disukai” Lelaki


            Ada harum yang semerbak, saat kaki-kaki mungil merambah bahu trotoar sepanjang mata membentang. Perempuan yang begitu saja lewat tanpa permisi, dengan busana yang aduhai. Harumnya menusuk sampai pangkal hidung. Dari yang tertutup sampai yang diumbar auratnya. Lelaki mana yang tidak ingin menggoda dan “memilikinya”. Sudah menjadi hal biasa ketika perempuan dengan pakaian yang serba mini, dan bukan menjadi persoalan lagi. Sebaliknya, akan menjadi persoalan ketika perempuan dengan aurat tertutup tetapi menggoda. Ah, inilah istilah keren saat ini, “Jilboobers”.
Menjamurnya sosial media dan gadget di golongan perempuan bisa menjadi bumerang tersendiri. Bagaimana peran sosial media dan gadget sangat berpengaruh besar terhadap tren hijabers. Merebaknya fenomena ini merupakan salah satu dampak dari kemajuan teknologi dan ketidakpuasan manusia terhadap apa yang dimilikinya.

Senin, 13 April 2015

Dua Puisi yang Dimuat di Koran Indopos (Minggu, 12 April 2015)



Mata Air Bima Lukar

maka angin mendengarkanmu
dan menumpahruahkan tirta
lalu tangan-tangan kecil menadahi setiap tetes
di lembah-lembah negeri hyang
di hulu rahim mata air
yang mengelinding seperti anak-anak
gunung asik bermain menanti kabar hujan

maka angin mendengarkanmu
dua sendang mengalir
menggulir suara sumbang resi bima
yang deras mengucur
membasuh bebatuan hulu
memikat drupadi ayu

Sabtu, 28 Februari 2015

RESENSI BUKU "MATAPANGARA" KARYA RAEDU BASHA

Mengembara Identitas Lokal Sampai Global



Judul Buku      : Matapangara
Pengarang       : Raedu Basha
Penerbit           : Ganding Pustaka
Tahun Terbit    : 2015
Cetakan           : Ketiga
Dimensi Buku : 13 x 19 cm+68 halaman
Harga Buku     : Rp29.000,00
ISBN               : 978-602-1638-30-9

Ada wangi Madura yang begitu khas berbaur wangian negeri asing. Seperti mencari wangi garam sambil mendengarkan aransemen musik Kitaro, kemudian melayang-layang menjelajah sahara, melintasi gunung sambi memerangi kesepian di Eropa hingga ke urban barat penuh warna dunia yang membedah mata. Pelbagai persoalan kehidupan dikemas dengan rapi, seperti diajak bermain menelusuri lintas negeri dengan masing-masing wangi yang khas. Menurunkan tempo detak jantung sebelum melepas nafas panjang.
Sajak “Ternyata Sudah Sangat Malam” menjadi pembuka yang penuh kegelisahan. Kesepian menggaruki jiwa setelah lepas dari tanah kelahiran menuju kota rantau. Seperti kesepian, kegelisahan, dam ketakutan yang dialami oleh Maximalianus di goa Tarthus. Seseorang yang pernah atau sedang pergi meninggalkan tanah kelahirannya pasti bisa memahami dan merasakan kegelisahan dalam perantauan. “Pergi dari sesuatu yang dikasihi, memberi kesempatan kepada seseorang untuk meninjau, menimbang dan merenungkannya. Pergi dari tanah kelahiran buat sementara, memberi kesempatan pada seseorang untuk kembali merenungkan hubungannya dengan tanah kelahiran itu.”[1]

Kamis, 19 Februari 2015

PUISI DIMUAT SUARA MERDEKA (MINGGU, 15 FEBRUARI 2015)

Beberapa puisi yang dimuat di koran Suara Merdeka, pada Minggu, 15 Februari 2015.


Fragmen I

undak petak sawah, tempat angin berlari
menyibak matahari yang mencangkuli
punggung emak bapak
undak petak sawah, tempat harap disemai
menanti rumpun-rumpun sri
mengharap rahim tanah memberi tuai

Jumat, 23 Januari 2015

ESAI "SASTRA DAN REALITA MASYARAKAT"



Sastra dan Realita Masyarakat

Sastra adalah intuisi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra ”menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia (Wellek dan Austin, 2014: 98). Jadi pada dasarnya sastra  merupakan cermin kehidupan masyarakat. Terciptanya sebuah karya sastra tidak pernah lepas dari faktor sosial pengarang dan lingkungan kehidupannya. Karya sastra sendiri bersifat subjektif pengarang

CONTOH RPP TEKS NEGOSIASI (SMA)

SILAHKAN LINK BISA DIUNDUH DI SINI.