oleh:
Ardy Suryantoko*
ardysuryantoko@yahoo.com
Dingin tercecer di mana-mana, sebuah
isyarat bahwa ini merupakan daerah lereng gunung. Kabut juga tidak begitu
pekat, tetapi rajin datang setelah petang menyengat. Lampu-lampu jalanan yang
khas, dan lubang-lubang jalan yang tidak pernah absen dari pergantian musim. Musim
panas dan musim hujan. Musim rindu dan musim cemburu. Sementara para kembara
sudah berulang kali melewati jalan yang sama. Hanya untuk bertemu atau sekedar
menghabiskan waktu untuk bercakap tentang hal yang itu-itu saja.
Perjalanan memang tak pernah diketahui
kapan awal dan kapan akhir, namun demikian pencarian harus selalu dilakukan.
Salah satu yang dicari dalam perjalanan pulang kali ini adalah mencari kenangan
yang terlupakan. Bukan, dilupakan lebih tepatnya. Beberapa hari menyusuri sudut
kota sudah banyak perubahan, namun secara hakikat nama kotanya masih sama. Dan
bagaimana dengan masyarakatnya, tak terlihat jauh berubah.
